Pages

Bulu Perindu Aura

Senin, 03 Oktober 2011

Permainan menyenangkan - 4

Sesampai di lobby hotel ternyata mereka tidak mau langsung ke kamar, tapi justru ingin nongkrong di lobby lounge yang nyaman itu sambil dengerin musik, aku meskipun sudah begitu bergairah terpaksa mengikuti saja. Aku meskipun menyukai pakaian ketat tanpa pakaian dalam ini, merasa kurang nyaman duduk di lobby seperti itu, salah duduk bisa bisa vaginaku terlihat dari kejauhan, disamping itu ini adalah hotel dimana paling banyak kuhabiskan waktu waktu malam bersama tamu tamuku, boleh dibilang inilah rumah kedua bagiku.

Sambil menemani mereka berdua aku berharap tidak ada orang yang melihatku meskipun tampaknya mustahil karena tempat duduk kami berada di tengah. Kami bertiga menikmati alunan musik live yang berkumandang, kusapukan pandanganku ke arah lobby, sekedar meyakinkan bahwa tak ada yang kukenal, beruntunglah hanya wajah wajah asing yang kulihat. Para tamu asik berbicara dengan rekan di sebelah atau dihadapannya seolah tak memperhatikan alunan musik yang mengalun indah, mungkin pembicaraan bisnis.

Tiba tiba pandanganku terpaku pada salah seorang yang sedang duduk berdua di bawah pohon besar di tengah lobby, aku mengenalnya, dia Pak Pram, salah satu orang kepercayaan cendana, lebih 3 kali aku menemaninya bahkan sekali kami "Berbulan madu" di Bali selaa 2 malam saat dia ada Turnament Golf. Pak Pram tersenyum ke arahku pertanda dia melihat kehadiranku, akupun tersenyum dengan sembunyi sembunyi takut ketahuan Edward maupun Reymon. Sepertinya tahu kalau aku sedang menemani tamu makanya dia tidak menghampiriku, tapi memberi isyarat supaya untuk bicara. Sehabis memberi isyarat dia langsung berjalan melintasi tempatku duduk, aku permisi ke toilet sebentar, Edward dan Raymon langsung mengajak ke kamar tapi dengan alasan aku masih ingin menikmati musik lagi kuminta mereka menunggu sebentar. Pak Pram sudah menunggu di depan Lift.

"Malam Bapak, tumben ke surabaya nggak kontak kontak" sapaku.

"Kontak apaan, HP kamu mati sedari sore tadi" jawabnya.

"Lagi ada orderan nih" godanya, aku hanya tersenyum.

"Temanin aku ke atas sebentar yuk, aku ada hadiah untuk kamu" ajaknya, dengan halus aku menolak, nggak mungkin meninggalkan tamuku terlalu lama.

"Please.. sebentar saja" pintanya memelas, aku nggak enak kalau harus bersitegang di depan lift, ntar dilihat orang, akhirnya aku mengalah.

"Tapi nggak macam macam kan?"

"Janji deh.. paling cuma satu macam". Akhirnya aku naik mengikutinya ke lantai 16.

"Aku paling nggak bisa pegang janji kalo sama gadis secantik kamu" katanya setelah menutup pintu kamar, dia langsung memelukku dari belakang, diremasnya kedua buah dadaku. Pak Pram tampak kaget saat tahu aku tak memakai bra.

"Aku kangen lho sejak kita dari Bali, sayang harus berpisah di Ngurah Rai, padahal aku masih ingin melanjutkan lagi di Surabaya, gara gara big boss yang memanggil mendadak" bisiknya sambil mencium telingaku, remasannya tak berhenti, bahkan menyusupkan tangannya dibalik kaos ketatku.

"Pak aku sedang ditunggu di bawah, tadi pamit cuma ke toilet, besok aja aku temanin Bapak, janji deh" kataku sambil menggeliat geli.

"Kita quickie aja sayang" bisiknya, dia selalu memanggilku sayang, seperti memanggil putrinya yang seusiaku.

Aku segera berbalik menghadapnya, kucium bibirnya dan dia membalas lumatan bibirku, sambil tetap berciuman kukeluarkan kejantanannya dari lubang resliting, sudah tegang. Segera aku berjongkok di depannya, kujilati sejenak lalu kumasukkan ke mulutku, hanya semenit aku mengulumnya. Kutuntun Pak Pram ke arah meja kerja, aku duduk di atasnya, saat kusingkap rok miniku, terlihat expresi terkejut di wajahnya saat tahu aku sudah tidak memakai celana dalam, tanpa memberinya kesempatan bertanya lebih lanjut kusapukan penisnya ke bibir vaginaku yang sudah basah sedari tadi.

Pak Pram melapas kaosku lalu melesakkan penisnya ke dalam dan mengocok langsung dengan tempo tinggi, desahan kenikmatan keluar dari mulutnya, akupun ikutan mendesah, sedikit terlampiaskan gairah yang terpendam sedari tadi meskipun tidaklah senikmat dikala bermain bertiga nanti. Hanya semenit kami sudah berganti posisi, aku berdiri telungkup di atas meja menerima sodokan Pak Pram dari belakang, kugoyang goyangkan pantatku mengimbanginya, aku hanya berharap dia segera menuntaskan nafsu birahinya secepat mungkin, nggak enak meninggalkan Edward dan Raymon dibawah, ntar mereka curiga.

Dan beberapa menit kemudian, kurasakan penisnya membesar diiringi semprotan sperma yang hangat membasahi vaginaku, tubuh Pak Pram menegang mencengkeram erat pantatku. Akhirnya dia menarik keluar dan mengusap usapkan sisa spermanya pada pantatku. Aku berbalik dan jongkok di depannya, kukulum penisnya yang masih banyak spermanya, dia melotot melihat kenakalanku tapi tak mencegahnya, justru malah mengusap usapkan ke wajahku. Aku berdiri merapikan rok-ku, mengenakan kembali kaosku, lalu mencuci vagina dan wajahku dari sperma Pak Pram.

"Lain kali kamu seperti ini saja kalo ketemu, besok aku hubungi" kata Pak Pram sambil memberikan beberapa lembar ratusan dollar, kita keluar kamar bersamaan tapi turun dengan lift yang berbeda.

Hampir 12 menit aku meninggalkan Edward dan Raymon, ternyata mereka ketemu 2 temannya, berempat mengelilingi meja kami, aku diperkenalkan sama mereka, tak ada yang bernama Leo, berarti bukan salah satu dari mereka. Aku minta maaf karena terlalu lama meninggalkannya, semoga mereka tidak curiga saat kubilang sakit perut mendadak.

"Mungkin kebanyakan nelan sperma dan bereaksi dengan kerang rebus tadi" bisik Raymon, tenanglah hatiku berarti dia tidak curiga.

Lima belas menit kami melanjutkan di lobby, aku masih tak tahu apakah salah satu atau kedua temannya itu ikut bersama kami. Ternyata tidak satupun yang ikut, mereka berpisah sedangkan aku, Edward dan Raymon kembali ke kamar, berarti malam ini kita melanjutkan permainan bertiga alias 2 in 1, tak ada 3 in 1.

Malam sudah semakin larut, sudah melewati pukul 11 malam, lobby hotel mulai sepi. Bertiga kami masuk Lift, begitu pintu lift tertutup, Raymon menarik tubuhku dalam pelukannya, diciuminya bibirku sambil meremas remas buah dada. Edward tak mau ketinggalan, dia menyingkap rok-ku dan mempermainkan klitorisku, aku mendesah di dalam lift. Meskipun sudah terbakar nafsu, aku masih bisa berpikir normal, kutolak ketika Edward hendak menyetubuhiku di lift, terlalu beresiko apabila tiba tiba lift berhenti dan ada orang masuk. Mereka berdua tertawa terbahak.

Namun begitu, sepanjang perjalanan di lift, tangan kedua laki laki itu tak berhanti menjamah dan menyusuri tubuhku, mulai dari tangannya yang menyusup masuk di balik kaos hingga menyusup di balik rok dan meremas buah dada maupun pantatku yang tanpa menutup lagi. Ternyata rangsangan bercampur ketegangan membuat birahiku sempat turun setelah melayani Pak Pram, bangkit kembali dengan cepatnya, akupun mendesis pelan dalam lift.

Beruntung pintu Lift tidak terbuka hingga lantai 8, kamipun bergegas menuju kamar. Aku heran saat mereka menekan bel pintu, bukannya langsung membukanya dengan kunci yang ada. Keherananku segera terjawab ketika pintu terbuka dan muncullah seorang laki laki hitam manis dari balik pintu.

"Inikah yang namanya Leo?" pikirku.

"Ly kenalin, ini Edo, karena Leo tidak ada kebetulan yang muncul dia, ya rejeki dia lah" kata Raymon setelah kami semua di dalam, rupanya si Edo sedang mandi.

"Sorry tadi nggak sempat ketemu soalnya aku baru dari Malang, jadi mandi dulu tapi kalian keburu naik" katanya, sepintas kulihat Edo seperti orang Ambon atau Irian meskipun tidak terlalu hitam tapi dibandingkan dengan kedua chinese itu dia tampak sekali bedanya.

Cengkeraman tangannya begitu kuat saat menjabat tanganku, pertanda dia bukan orang kantoran. Dengan santai dan hanya mengenakan handuk membalut pinggangnya, Edo menemani kami ngobrol di sofa, obrolan mereka justru seputar permainan kami tadi siang dan membandingkan dengan pengalaman mereka sebelumnya. Terbersit sedikit kebanggaan saat mereka memuji bagaimana aku melayaninya dan mereka puas. Baru sekarang kutahu kalau mereka sendiri belum pernah main berempat seperti ini, berarti sama sama pengalaman pertama, terutama bagi Edward, baru bermain rame rame langsung main berempat, tentu saja dia sangat exiting.

Selama kami ngobrol, aku duduk antara Edward dan Raymon, tangan keduanya tak beranjak dari tubuhku, baik di punggung maupun paha, Edo hanya melihat sambil tersenyum. Tak lebih 10 menit kami ngobrol, tangan Edward dan Raymon bersamaan menyelinap masuk dibalik kaosku dan berbagi buah dada, mereka berpandangan lalu tersenyum, bersamaan pula mereka mencium pipi kanan dan kiriku, menyusur turun ke leher sambil masih meremas remas buah dada, aku mendesah desah diperlakukan seperti ini, apalagi didepan Edo yang kelihatan begitu cool melihat temannya sudah mulai.

"Lepas kaosnya dong" teriak Edo tanpa beranjak dari duduknya, kulihat tangannya sudah berada dibalik handuknya.

Tanpa diminta dua kali, Edward menarik lepas kaosku, bersamaan mereka langsung mengulum putingku yang sudah menantang, Edo memuji keindahan payudaraku sebelum kedua laki laki di sebelahku mengulumnya. Tangan Edward sudah mulai menjamah selangkanganku, aku semakin mendesah, kuraih kejantanan mereka, ternyata sudah keluar dari celananya. Dua penis berbeda bentuk dan ukuran berada dalam genggamanku, kukocok dan kuremas, mereka mulai ikutan mendesah. Raymon mendahului berlutut di antara kakiku, disingkapnya rok-ku, aku mendorongnya menjauh, khawatir masih tersisa aroma sperma Pak Pram, tapi dia tak mempedulikan penolakanku, kubiarkan saja ketika lidahnya mulai menyusuri pahaku, justru kakiku kubuka semakin lebar.

Aku mendesah atau lebih tepatnya menjerit nikmat ketika lidah Raymon mulai menyentuh klitoris dan bibir vaginaku, sementara Edward masih menempelkan mulutnya pada puting, dua lidah bermain dengan lincahnya di kedua titik sensitif tubuhku, desahan demi desahan keluar dari mulutku tanpa terkendali. Kuremas remas kepala Raymon yang berada di selangkangan dan kutekankan lebih dalam sambil mengocok penis Edward.

"Ugh.. ss.. copot dong pakaiannya" pintaku sambil mendesah.

Kedua laki laki itu berdiri melepaskan diriku dari cumbuannya, melihat kekosongan ini, Edo berdiri menghampiriku, dilemparnya handuk penutup tubuhnya, tampaklah tubuhnya yang cukup atletis dengan penis yang menegang, sama besar dengan punya Raymon, dia langsung menyodorkannya ke mukaku. Dengan tersenyum kuraih penisnya, kukocok sejenak sambil menatapnya, dia tersenyum. Aku mulai menciumi penis Edo, menjilatinya sekujur batang hingga ke kantong bola, cairan bening meleleh dari kepala penisnya, terasa asin tapi tak kupedulikan. Penis itu segera memasuki mulutku ketika Edward kembali duduk di sampingku, Raymon berdiri di samping Edo menunggu giliran, ternyata Edward mengikutinya, akupun menyesuaikan posisiku, jongkok di depan ketiga laki laki telanjang yang 2 diantaranya baru kukenal bebarapa jam yang lalu.

Bersambung . . . . . .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar